Pakaian Taqwa

September 22, 2009

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

“Wahai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa[531] itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.”

(QS. Al A’raaf: 26)

Pakaian taqwa, itulah pakaian yg baik. Begitu Allah SWT berpesan dalam kalam-Nya di atas. Ibn Katsir menukil dua pendapat ttg pakaian taqwa dlm ayat ini. Yg pertama berpendapat bahwa pakaian taqwa adalah yg nampak di luar (fisik) pada seorang hamba, sementara yg kedua berpendapat bahwa pakaian taqwa itu di dalam (hati). Jika kita menjadikan kedua pendapat tsb saling melengkapi, maka kita mendapati bahwa taqwa merupakan sebuah bias fisik dari eskpresi hati seorang hamba. Dan pakaian taqwa inilah yg Allah SWT perintahkan utk kita cari di dalam bulan puasa ini: “diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” (QS. Al-Baqarah: 183).

Tersebutlah Hanzhalah ra , salah seorang sahabat Rasullah saw. Ia mengadu pada Rasulullah SAW dan para sahabat yg lain bahwa ia merasa semangat ketika dekat Nabi dan para sahabat, tetapi ‘lemah’ ketika jauh. Hanzhalah takut jatuh dalam jurang kemunafikan. Seperti inilah contoh yg diajarkan oleh generasi utama Islam, generasi sahabat Rasulullah SAW. Betapa pun Rasulullah (SAW) bersabda bahwa sebaik-baik generasi adalah generasi para sahabatnya, tapi mereka sendiri pun tdk merasa diri mereka baik. Mereka kerap berhias rasa takut, cemas dan harap ttg keimanannya.

Ibnul Jauzi (seorang ulama pendahulu) mengibaratkan rasa takut dan rasa harap yg ada pada seorang beriman (seperti rasa khawatir Hanzhalah tsb) bagaikan 2 sayap pada seekor burung. Tanpa salah satunya tidak bisa terbang. Rasa takut/khawatir/cemas (khawf) saja tidak tdklah cukup, begitu juga rasa harap (raja’) tanpa rasa takut. Tanpa salah satu dari rasa ini, iman seorang hamba tdk bisa ‘terbang’ mendekat pada Rabb-nya. Untuk semangat inilah, kita mendapati sikap banyak orang yang merasa sedih di akhir Ramadhan. Merasa masih kurang optimal, tidak menggunakan bulan suci dengan maksimal. Karena memang tdk ada manusia yg bersih dari dosa (selain Rasulullah SAW). Tapi kita dicipta untuk membersihkan diri darinya: innallaaha yuhibbul muththohhirin; qad aflaha man tazakka.

Pakaian taqwa, bukanlah perasaan seseorang yg merasa bertaqwa lantaran banyak amal shalih yg diperbuatnya. Ini adalah sikap bangga diri (‘ujub), dan ini adalah salah satu pintu kelalaian. Tapi pakaian taqwa bukan pula sikap takut merasa taqwa, yg dengannya seseorang menjadi enggan utk beramal shalih. Seolah-olah seseorang ‘takut’ beramal shalih, lantaran ia ‘takut’ dengan amal shalih tsb, ia akan merasa dirinya bertaqwa.

**

Melalui surat al-Fatihah, Allah SWT membimbing kita untuk terus berusaha menjadi orang bertaqwa, yaitu orang-orang yg diberi nikmat petunjuk jalan yg lurus, bukan jalan mereka yg IA murkai atau mereka yg sesat (QS. Al-Fatihah: 6-7). Tidak sampai di situ, dgn kasih sayang-Nya Ia juga membimbing kita untuk tdk pernah merasa bertaqwa serta tdk putus asa dlm meminta petunjuk; Allah SWT memerintahkan kita utk membaca surat al-Fatihah tsb minimal 17 kali dalam 24 jam. Di dalam ayat lain, Allah SWT menyebutkan bahwa DIA mengutus para nabi dan Rasul agar para hamba-Nya menjadi ‘manusia-manusia Robbani’, yaitu mereka yg terus menerus belajar dan mengajarkan kitab-Nya (QS. Ali Imran: 79). Meresapi kedua ayat ini, bukankah seolah Allah SWT “berbicara” pada kita, bahwa DIA menginginkan ketaqwaan dan petunjuknya bagi hamba-hambaNya, yaitu dengan tidak merasa cukup dengan keadaan iman, ilmu, dan keadaan amal kita?

Dua bekal (Muhammad Ahmad Al Rashid):

a. Bekal Iman & Ilmu. Menjelaskan surat al-Fatihah, Rasulullah SAW mengajarkan bahwa orang-orang yg sesat adalah mereka yg imannya tidak dilandasi ilmu, sedangkan mereka yg dimurkai adalah kebalikannya, punya banyak pengetahuan namun sepi dari pengamalan.

b. Bekal ukhuwah/persaudaraan, yaitu kebersamaan kita dengan orang-orang di sekeliling kita. Kita bisa bercermin ttg banyak hal dari orang-orang di sekeliling kita. Mudah-mudahan, paling tidak pada sebagian di antara mereka, kita bisa bercermin ttg keadaan keimanan kita. Maka betapa berbahagia Hanzhalah, ketika kelesuan melanda imannya, ia bisa menjumpai banyak “cermin akhirat”. Pada ketakwaan Umar dgn ciri khas kegagahannya, pada ketakwaan Abu Bakr dgn kebijaksanaannya, pada kualitas Utsman dgn sifat pemalunya, dan pada keutamaan ‘Ali dgn kecerdasannya. Hanzhalah bisa bercermin kepada Rasulullah saw, sekaligus para sahabatnya. Hanzhalah bahkan berkata, “Saudara2ku mengingatkanku kepada Akhirat”.

Mudah-mudahan pakaian takwa yang kita dapat, kita tidak takut menjadi taqwa sehingga kita tidak beramal saleh, dan kita tidak merasa ujub. Untuk itu, mari terus beramal, berbarengan dengan rasa cemas dan harap serta terus merasakan kurang akan amal kita. Mudah-mudah dengannya Allah melindungi kita dari sikap bangga ataupun sombong akan amal kita, serta pintu-pintu kelalaian lainnya.


Ikhlas

September 16, 2009

Assalamualaikum warhmatullahi wabarakatuh

Kultum oleh: Andre

Ikhlas penting, karena ada 2 syarat di terimanya amal: Ikhlas & Ilmu. Ikhlas tanpa ilmu, sesat (Bid’ah). Syaitan menyukai Ahli Bid’ah. Ilmu tanpa ikhlas, ibadahnya di tolak.

Hadith Muslim – Mengenai laki2 mati syahid dalam perang. Perang tidak ikhlas, bukan karena Allah tapi karena ingin di cap pemberani. Seorang hafiz, bukan karena Allah tapi ingin di puji. Orang ke-3 orang kaya dermawan, tapi tidak ikhlas, karena ingin di puji orang. Maka ketiga orang tersebut dimasukkan ke Neraka.

Ke-3 orang tadi bukan orang jahat, tapi karena niat yang salah.

Hadith Bukhari: Amal di nilai dari niat,
Sheikh Al-Hilali.
1. Niat itu keharusan. Harus niat sebelum ibadah.
2. Niat di hati tidak perlu di lafazkan.
3. Niat yang baik tidak mengubah perbuatan jahat jadi baik. Tidak boleh niat untuk perbuatan yang salah,
4. Ikhlas syaratnya amal.

Ikhlas itu sulit. – Rasa iba/kasihan belum tentu ikhlas. Hanya ingin memuaskan hati. Perbuatan tetap baik, tetapi lebih baik ikhlas.

Rasa berat untuk ikhlas itu tidak apa2, kita harus bersabar. Tulus: tidak ada beban. Ikhlas: biar ada beban, tapi tetap usaha. Ikhlas karena Allah. Ikhlas lbh baik dr tulus.

Tanda-tanda orang ikhlas.
– takut akan popularitas. Tidak ingin terkenal. Tidak takut reputasi rusak.
– mengakui kekurangan diri. Tidak merasa ujub – bangga. Takkabur – sombong, kepada orang lain.
– lebih cenderung untuk menyembunyikan amal.
Hadith Muaz bin Jabbal tentang Riya’ walaupun sedikit bisa termasuk syirik.
– Ikhlas, tidak mempermasalahkan posisi, sebagai pemimpin/pranjurit.
Contoh, Khalid bin Walid, sewaktu di turunkan dari posisi komandan
– Mengutamakan keridhaaan Allah daripada manusia.
– Ikhlas, cinta dan marah karena Allah. (At Taubah, mengenai zakat yang pembagiannya, orang yang tidak mendapatkannya tidak ikhlas)
– Sabar.
– Ikhlas ketika orang lain memiliki kelebihan. Hasad – sifat menutup keikhlasan. Mempersilahkan orang yang lebih baik.

Ikhlas sering di hubungkan dengan sedekah. Hadith Tarmidzi dan Ahmad. Mengenai penciptaan alam dan gunung, dan mereka bergetar. Lebih kuat dari gunung, besi. Lebih kuat, api. Lebih kuat, air. Lebih kuat, angin. Lebih dahsyat dari itu, adalah amal anak Adam yang bersedekah dengan tangan kanan, tangan kiri tidak mengetahui.

Konsep amal sedikit, pahala banyak (Al Baqarah 215. Al Zalzalah.
Al Baqarah 261. Al Baqarah 245.)

Balasan orang yang puasa dengan ikhlas, syurga. Hadith daripada Sahl bin Saad pintu Ar Raiyan. Pintu orang2 berpuasa.

Tafsir Surah Al-Ikhlas oleh Quraish Shihab.

Wassalamualiakum warahmatullahi wabarakatuh.


Jurnal #2

September 16, 2009

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillah, Pengajian dan buka bersama kali ini juga berjalan dengan lancar. Terimakasih buat Mas Rio yang sudah menyumbangkan masakan yang maknyus, nikmat sekali. Selain dedengkot IRISA ada juga wajah baru yang terlihat. Saudara Andre telah merelakan diri untuk menyumbang kultumnya yang bertajuk “Ikhlas” dan sempat juga kita mebahas Idzhar dalam topik Tajwid kita.

Insha Allah pengajian mendatang akan di adakan di rumah Fadly dan Fajar di Ethel St. Dan kultum akan di isi oleh Akh Fadly.

Mudah2an pengajian IRISA akan selalu menjadi wadah yang bermanfaat.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Tadarus: Al Baqarah 112


Tajwid – Ikhfa (Hakiki)

September 4, 2009

Ikhfa’ secara harfiah berarti “disembunyikan”. Menurut istilah tajwid berarti melafalkan huruf antara izhar dan idgham tanpa tasydid dan disertai dengan dengung. Disebut juga ikhfa hakiki (real) karena kenyataannya persentase nun sukun dan tanwin yang disembunyikan lebih banyak dari huruf lainnya
Ikhfa adalah apabila nun mati/tanwin bertemu dengah 15 huruf:

ta, tsa, jim, dal, dzal, za, sin, syin, shad, dha, tha, zha, fa, qof, kaf
ت ث ج د ذ ز س ش ص ض ط ظ ف ق ك

Contoh:
Al-Asr, Ayat 2
alasr2
Dengarkan

Al-Falaq, Ayat 2
alfalaq2
Dengarkan

Sumber & contoh-contoh lain, klik di sini


Jurnal #1

September 4, 2009

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Alhamdulillah Pengajian IRISA pada hari Rabu kemarin berjalan lancar. Terlihat beberapa wajah baru dan juga para langganan IRISA yang setia. Tercatat rekor peserta pengajian yang paling muda kemarin adalah Raihan , (umur 2 tahun), putera Mas Rio & Mba Risti, yang sumbangan Ice Creamnya sangat kami hargai. Dan rekor peserta ter-dewasa adalah Pak Ukar dan Bu Ukar, tokoh masyakarat Indonesia di Adelaide yang sudah tidak asing lagi (Umur di samarkan, tetapi Pak Ukar sudah ada di Adelaide sejak tahun 70han). Terima kasih juga kepada Akhi Fadly dengan kroket & Sambal cuminya yang lezat.

Materi Kultum adalah Syarat dan Rukun Shalat yang teksnya sudah di muat di jurnal ini.
Materi tajwid yang dibahas adalah Ikhfa.

Pengajian pria: Sampai ke Surah Al-Baqarah ayat 70.
Pengajian wanita: Surah Ar-Rahman.

Insha Allah pengajian minggu depan akan di adakan di tempat dan waktu yang sama, dengan saudara Andre sebagi pengisi kultum.

Sekian laporan dari IRISA,

PS: Mbak Risti, mobil-mobilannya Raihan ketinggalan di rumah, :)

Wassalamuálaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Crazy Spots I’ve Prayed – Dawud Wharsnby Ali

September 3, 2009

All the earth is a place of prostration,
Every field and meadow, mountain, park, city, farm plantation.
Every roadside, seaside, hillside, walkway,
Any place clean and green can be a place to pray
When I think of every path, where I’ve ever trot,
I laugh at all the crazy spots I stopped to worship God.
Remember that long car ride?
Driving all night so far,
Under the summer moon we pulled off to the side,
Reclining in the front seat of the car.

Waking to a fajr bird sound,
And washing in the coin car wash we found.
With the water blaster making wudhu,
You sprayed me and I sprayed you.

We stood so drowsy in the dawn,
Behind the car wash dripping on the lawn.

All the earth is a place of prostration,
Every field and meadow, mountain, park, city, farm plantation.
Every roadside, seaside, hillside, walkway,
Any place clean and green can be a place to pray
When I think of every path, where I’ve ever trot,
I laugh at all the crazy spots I stopped to worship God.

Saturday shopping day, in a busy mall and bustling through the aisles,
Where everyone’s getting in my way.
Each blank zombie we shop and face forty smiles.

Time comes for prayer attack,
Grab a pair of pants or a sweater from the rack.
Find a changing room and latch the door,
Set aside excuses and hit the floor.

As I go back to the mall,
It’s easier then to make sense of it all.

All the earth is a place of prostration,
Every field and meadow, mountain, park, city, farm plantation.
Every roadside, seaside, hillside, walkway,
Any place clean and green can be a place to pray
When I think of every path, where I’ve ever trot,
I laugh at all the crazy spots I stopped to worship God.

And our socks froze to the blanket,
That we spread over the snow,
Your call to prayer bounced off the trees and across the icy meadow.
Crisp and clean cold air, our hearts were so aware,
Our bodies felt the frozen freedom what a very cool place for prayer!

All the earth is a place of prostration,
Every field and meadow, mountain, park, city, farm plantation.
Every roadside, seaside, hillside, walkway,
Any place clean and green can be a place to pray
When I think of every path, where I’ve ever trot,
I laugh at all the crazy spots I stopped to worship God.

There was a time next to the river;
There was a time in the school hall.
There was that stairwell in that building,
There was that forest in the fall.
The movie house corridor,
The airplane kitchen in the sky.
So many places I’m sure there’ll be more
Pieces of earth to testify.

All the earth is a place of prostration,
Every field and meadow, mountain, park, city, farm plantation.
Every roadside, seaside, hillside, walkway,
Any place clean and green can be a place to pray
When I think of every path, where I’ve ever trot,
I laugh at all the crazy spots I stopped to worship God.


Shalat – Syarat & Rukun

September 2, 2009


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Shalat, secara harfiah berarti do’a. Definisi shalat adalah rangkaian ibadah khusus yang dimulai dengan ucapan “Allahu Akbar” dan di akhiri dengan salam.

Shalat yang Fard (wajib) Tidak boleh ditinggalkan, bahkan dalam keadaan perang sekalipun. Allah subhanahu wataala berfirman:

Q2_238_239

Peliharalah segala shalat [mu], dan [peliharalah] shalat wusthaa. Berdirilah karena Allah [dalam shalatmu] dengan khusyu’. (238)
Jika kamu dalam keadaan takut [bahaya], maka shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan. Kemudian apabila kamu telah aman, maka sebutlah Allah [shalatlah], sebagaimana Allah telah mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. (239)

*Yang dimaksud dengan shalat wusthaa adalah shalat yang di tengah-tengah, shalat Asar.
(Quran Surah Al Baqarah(2)238-239)

Shalat Fard terbagi lagi menjadi dua, yaitu :
Fard ‘Ain : berkaitan langsung dengan pribadi orang yang shalat, tidak boleh ditinggalkan ataupun dilaksanakan oleh orang lain, seperti shalat lima waktu, dan shalat jumat(Fard ‘Ain untuk pria).
Fard Kifayah : tidak berkaitan langsung dengan pribadi orang yang bershalat. Bila tidak ada orang lain yang mengerjakannya maka kita wajib mengerjakannya dan menjadi berdosa bila tidak dikerjakan. Tetapi bila ada orang lain yang mengerjakannya hukumya menjadi sunnah. Seperti shalat jenazah.

Nafilah (Shalat Sunnat)
,adalah shalat-shalat yang dianjurkan atau disunnahkan.
Sunnat Muakkad adalah shalat sunnat yang dianjurkan dengan penekanan yang kuat (hampir mendekati wajib), seperti shalat dua hari raya, shalat sunnat witir dan shalat sunnat thawaf.
Sunnat Ghairu Muakkad adalah shalat sunnat yang dianjurkan tanpa penekanan yang kuat, seperti shalat sunnat Rawatib dan shalat sunnat yang sifatnya insidentil (tergantung waktu dan keadaan)

Syarat-syarat Shalat

Syarat-syarat yang harus dipenuhi sebelum melakukan shalat dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua) macam yaitu :

I.Syarat-syarat wajib shalat
1.Islam

2.Suci dari Haidl dan Nifas.

3.Berakal Sehat, Orang yang tidak berakal sehat seperti orang
gila,orang yang mabuk, dan Pingsan tidak wajib mengerjakan shalat,
sbagaimana sabda Rasulullah :

“Ada tiga golongan manusia yang telah diangkat pena darinya (tidak
diberi beban syari’at) yaitu; orang yang tidur sampai dia terjaga,
anak kecil sampai dia baligh dan orang yang gila sampai dia sembuh.”
(HR. Abu Daud dan lainnya, hadits shahih)

4.Baliqh (Dewasa), Orang yang belum baliqh tidak wajib mengerjakan
shalat. Tanda-tanda orang yang sudah baliqh :

a.Sudah berumur 10 tahun. sebagaimana sabda Rasulullah

“Perintahkanlah anak-anak untuk melaksanakan shalat apabila telah
berumur tujuh tahun, dan apabila dia telah berumur sepuluh tahun,
maka pukullah dia kalau tidak melaksanakannya.” (HR. Abu Daud dan
lainnya, hadits shahih)

b.Mimpi bersetubuh.
c.Mulai keluar darah haidl (datang bulan) bagi anak perempuan

5.Telah sampai da’wah kepadanya, Orang yang belum pernah mendapatkan
da’wah/seruan agama tidak wajib mengerjakan shalat.

6.Jaga, Orang yang sedang tertidur tidak wajib mengerjakan shalat.

II. Syarat-syarat sah Shalat

1.Masuk waktu shalat
Shalat tidak wajib dilaksanakan terkecuali apabila sudah masuk
waktunya, dan tidak sah hukumnya shalat yang dilaksanakan sebelum
masuk waktunya. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya
atas orang-orang yang beriman.” (An-Nisa': 103)

2.Suci dari hadats besar dan hadats kecil.
Hadats kecil ialah tidak dalam keadaan berwudhu dan hadats besar
adalah belum mandi dari junub. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu
wa Ta’ala :

Artinya :”Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak
mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai siku,
dan sapulah kepalamu dan (basuhlah) kakimu sampai kedua mata

Sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam :
Artinya :”Allah tidak akan menerima shalat yang tanpa disertai
bersuci”. (HR. Muslim)

3.Suci badan, pakaian dan tempat shalat dari najis,
Adapun dalil tentang suci badan adalah sabda Rasulullah shallallaahu
alaihi wasallam terhadap perempuan yang keluar darah istihadhah :

“Basuhlah darah yang ada pada badanmu kemudian laksanakanlah shalat.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Adapun dalil tentang harusnya suci pakaian, yaitu firman Allah
Subhanahu wa Ta’ala :

“Dan pakaianmu, maka hendaklah kamu sucikan.” (Al-Muddatstsir: 4)
Adapun dalil tentang keharusan sucinya tempat shalat yaitu hadits Abu
Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata :

Adapun dalil tentang keharusan sucinya tempat shalat yaitu hadits Abu
Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata :

“Telah berdiri seorang laki-laki dusun kemudian dia kencing di masjid
Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam , sehingga orang-orang ramai
berdiri untuk memukulinya, maka bersabdalah Rasulullah shallallaahu
alaihi wasallam, ‘Biarkanlah dia dan tuangkanlah di tempat kencingnya
itu satu timba air, sesungguhnya kamu diutus dengan membawa kemudahan
dan tidak diutus dengan membawa kesulitan.” (HR. Al-Bukhari).

4. Menutup aurat, Aurat harus ditutup rapat-rapat dengan sesuatu yang
dapat menghalangi terlihatnya warna kulit. Hal ini berdasarkan firman
Allah Subhanahu wa Ta’ala :

“Wahai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah setiap kali berada
ditempat sujud .” (Al-A’raf: 31)

Yang dimaksud dengan pakaian yang indah adalah yang menutup aurat.
sedangkan tempat sujud adalah tempat shalat. Para ulama sepakat bahwa
menutup aurat adalah merupakan syarat sahnya shalat, dan barangsiapa
shalat tanpa menutup aurat, sedangkan ia mampu untuk menutupinya,
maka shalatnya tidak sah.

5.Menghadap kiblat, Orang yang mengerjakan shalat wajib menghadap
kiblat yaitu menghadap ke arah Masjidil Charam. Hal ini berdasarkan
firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka
sungguh Kami akan memalingkanmu ke kiblat yang kamu sukai.
Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu
berada, maka palingkanlah mukamu ke arahnya.” (Al-Baqarah: 144)

Rukun-rukun shalat

Shalat itu mempunyai rukun-rukun yang apabila salah
satunya ditinggalkan maka tidak sah shalatnya.
Rukun-rukun tersebut adalah :

1. Berniat; Yaitu niat di hati untuk melaksanakan
shalat tertentu, hal ini berdasarkan sabda Rasulullah
shallallaahu alaihi wasallam:

“Sesungguhnya segala amal perbuatan itu tergantung
niatnya”. (Muttafaq ‘alaih)

2. Takbiratul Ihram; Yaitu takbir yang pertama kali
diucapkan oleh orang yang mengerjakan shalat sebagai
tanda mulai mengerjakan shalat dengan lafazh (ucapan):
.”Allaahu Akbar” Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah
shallallaahu alaihi wasallam :

“Kunci shalat itu adalah bersuci, pembatas antara
per-buatan yang boleh dan tidaknya dilakukan waktu
shalat adalah takbir, dan pembebas dari keterikatan
shalat adalah salam.” (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi dan
lainnya, hadits shahih )

3. Berdiri bagi yang sanggup. berdasarkan firman Allah
Subhanahu wa Ta’ala:

“Peliharalah segala shalat(mu) dan (peliharalah)
shalat wustha (Ashar). Berdirilah karena Allah (dalam
shalat-mu) dengan khusyu’.” (Al-Baqarah: 238)

Dan berdasarkan Sabda Rasulullah shallallaahu alaihi
wasallam kepada Imran bin Hushain:

“Shalatlah kamu dengan berdiri, apabila tidak mampu
maka dengan duduk, dan jika tidak mampu juga maka
shalatlah dengan berbaring ke samping.” (HR.
Al-Bukhari)

4. Membaca surat Al-Fatihah wajib pada setiap rakaat
shalat fardhu dan shalat sunnah; Hal ini berdasarkan
sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam:

“Tidak sah shalat seseorang yang tidak membaca surat
Al-Fatihah.” (HR. Al-Bukhari)

5. Ruku’ dengan thuma’ninah; bagi orang yang shalat
dengan berdiri minimal adalah menunduk kira-kira dua
telapak tangannya sampai kelutut dan yang sempurna
yaitu betul-betul menunduk sampai datar/lurus antara
tulang punggung dengan lehernya (90 derajat) serta
meletakan dua telapak tangan kelutut. Ruku’ ini
berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu,
sujud-lah kamu, sembahlah Rabbmu dan perbuatlah
kebajikan supaya kamu mendapat kemenangan.” (Al-Hajj:
77)

Juga berdasarkan sabda Nabi shallallaahu alaihi
wasallam kepada seseorang yang tidak benar shalatnya:

” … kemudian ruku’lah kamu sampai kamu tuma’ninah/
tenang dalam keadaan ruku’.” (HR. Al-Bukhari dan
Muslim)

6. I’tidal dengan thuma’ninah ; artinya berdiri lurus
seperti pada waktu membaca Fatihah.Hal ini berdasarkan
sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam terhadap
seseorang yang salah dalam shalat-nya:

” … kemudian bangkitlah (dari ruku’) sampai kamu
tegak lurus berdiri.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

7. Sujud dua kali dengan thuma’ninah; Hal ini
berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang
telah disebutkan di atas tadi. Juga berdasarkan sabda
Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam:

“Kemudian sujudlah kamu sampai kamu tuma’ninah dalam
sujud.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

8. Duduk di antara dua sujud dengan thuma’ninah ; Hal
ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu alaihi
wasallam:
“Allah tidak akan melihat kepada shalat seseorang yang
tidak menegakkan tulang punggungnya di antara ruku’
dan sujudnya.” (HR. Ahmad, dengan isnad shahih)

9. Duduk dengan tumaninah serta Membaca tasyahhud
akhir dan shawalat nabi ; Ada-pun tasyahhud akhir itu,
maka berdasarkan perkataan Ibnu Mas’ud radhiyallahu
anhu yang bunyinya:

“Dahulu kami membaca di dalam shalat sebelum
diwajibkan membaca tasyahhud adalah:
‘Kesejahteraan atas Allah, kesejahteraan atas malaikat
Jibril dan Mikail.’

Maka bersabdalah Rasulullah shallallaahu alaihi
wasallam:

‘Janganlah kamu membaca itu, karena sesungguhnya Allah
Yang Maha Perkasa lagi Maha Mulia itu sendiri adalah
Maha Sejahtera, tetapi hendaklah kamu membaca:

“Segala penghormatan, shalawat dan kalimat yang baik
bagi Allah. Semoga kesejahteraan, rahmat dan berkah
Allah dianugerahkan kepadamu wahai Nabi. Semoga
kesejahteraan dianugerahkan kepada kita dan
hamba-hamba yang shalih. Aku bersaksi bahwa tidak ada
sesembahan yang hak melainkan Allah dan aku bersaksi
bahwa Muhammad adalah hamba dan rasulNya.” (HR.
An-Nasai, Ad-Daruquthni dan Al-Baihaqi dengan sanad
shahih)
Dan sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam:

“Apabila salah seorang di antara kamu duduk
(tasyah-hud), hendaklah dia mengucapkan: ‘Segala
penghormatan, shalawat dan kalimat-kalimat yang baik
bagi Allah’.” (HR. Abu Daud, An-Nasai dan yang
lainnya, hadits ini shahih dan diriwayatkan pula dalam
dalam “Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim”)
Adapun duduk untuk tasyahhud itu termasuk rukun juga
karena tasyahhud akhir itu termasuk rukun

10. Membaca salam.

11. Tertib.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.