Shalat – Syarat & Rukun


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Shalat, secara harfiah berarti do’a. Definisi shalat adalah rangkaian ibadah khusus yang dimulai dengan ucapan “Allahu Akbar” dan di akhiri dengan salam.

Shalat yang Fard (wajib) Tidak boleh ditinggalkan, bahkan dalam keadaan perang sekalipun. Allah subhanahu wataala berfirman:

Q2_238_239

Peliharalah segala shalat [mu], dan [peliharalah] shalat wusthaa. Berdirilah karena Allah [dalam shalatmu] dengan khusyu’. (238)
Jika kamu dalam keadaan takut [bahaya], maka shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan. Kemudian apabila kamu telah aman, maka sebutlah Allah [shalatlah], sebagaimana Allah telah mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. (239)

*Yang dimaksud dengan shalat wusthaa adalah shalat yang di tengah-tengah, shalat Asar.
(Quran Surah Al Baqarah(2)238-239)

Shalat Fard terbagi lagi menjadi dua, yaitu :
Fard ‘Ain : berkaitan langsung dengan pribadi orang yang shalat, tidak boleh ditinggalkan ataupun dilaksanakan oleh orang lain, seperti shalat lima waktu, dan shalat jumat(Fard ‘Ain untuk pria).
Fard Kifayah : tidak berkaitan langsung dengan pribadi orang yang bershalat. Bila tidak ada orang lain yang mengerjakannya maka kita wajib mengerjakannya dan menjadi berdosa bila tidak dikerjakan. Tetapi bila ada orang lain yang mengerjakannya hukumya menjadi sunnah. Seperti shalat jenazah.

Nafilah (Shalat Sunnat)
,adalah shalat-shalat yang dianjurkan atau disunnahkan.
Sunnat Muakkad adalah shalat sunnat yang dianjurkan dengan penekanan yang kuat (hampir mendekati wajib), seperti shalat dua hari raya, shalat sunnat witir dan shalat sunnat thawaf.
Sunnat Ghairu Muakkad adalah shalat sunnat yang dianjurkan tanpa penekanan yang kuat, seperti shalat sunnat Rawatib dan shalat sunnat yang sifatnya insidentil (tergantung waktu dan keadaan)

Syarat-syarat Shalat

Syarat-syarat yang harus dipenuhi sebelum melakukan shalat dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua) macam yaitu :

I.Syarat-syarat wajib shalat
1.Islam

2.Suci dari Haidl dan Nifas.

3.Berakal Sehat, Orang yang tidak berakal sehat seperti orang
gila,orang yang mabuk, dan Pingsan tidak wajib mengerjakan shalat,
sbagaimana sabda Rasulullah :

“Ada tiga golongan manusia yang telah diangkat pena darinya (tidak
diberi beban syari’at) yaitu; orang yang tidur sampai dia terjaga,
anak kecil sampai dia baligh dan orang yang gila sampai dia sembuh.”
(HR. Abu Daud dan lainnya, hadits shahih)

4.Baliqh (Dewasa), Orang yang belum baliqh tidak wajib mengerjakan
shalat. Tanda-tanda orang yang sudah baliqh :

a.Sudah berumur 10 tahun. sebagaimana sabda Rasulullah

“Perintahkanlah anak-anak untuk melaksanakan shalat apabila telah
berumur tujuh tahun, dan apabila dia telah berumur sepuluh tahun,
maka pukullah dia kalau tidak melaksanakannya.” (HR. Abu Daud dan
lainnya, hadits shahih)

b.Mimpi bersetubuh.
c.Mulai keluar darah haidl (datang bulan) bagi anak perempuan

5.Telah sampai da’wah kepadanya, Orang yang belum pernah mendapatkan
da’wah/seruan agama tidak wajib mengerjakan shalat.

6.Jaga, Orang yang sedang tertidur tidak wajib mengerjakan shalat.

II. Syarat-syarat sah Shalat

1.Masuk waktu shalat
Shalat tidak wajib dilaksanakan terkecuali apabila sudah masuk
waktunya, dan tidak sah hukumnya shalat yang dilaksanakan sebelum
masuk waktunya. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya
atas orang-orang yang beriman.” (An-Nisa’: 103)

2.Suci dari hadats besar dan hadats kecil.
Hadats kecil ialah tidak dalam keadaan berwudhu dan hadats besar
adalah belum mandi dari junub. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu
wa Ta’ala :

Artinya :”Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak
mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai siku,
dan sapulah kepalamu dan (basuhlah) kakimu sampai kedua mata

Sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam :
Artinya :”Allah tidak akan menerima shalat yang tanpa disertai
bersuci”. (HR. Muslim)

3.Suci badan, pakaian dan tempat shalat dari najis,
Adapun dalil tentang suci badan adalah sabda Rasulullah shallallaahu
alaihi wasallam terhadap perempuan yang keluar darah istihadhah :

“Basuhlah darah yang ada pada badanmu kemudian laksanakanlah shalat.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Adapun dalil tentang harusnya suci pakaian, yaitu firman Allah
Subhanahu wa Ta’ala :

“Dan pakaianmu, maka hendaklah kamu sucikan.” (Al-Muddatstsir: 4)
Adapun dalil tentang keharusan sucinya tempat shalat yaitu hadits Abu
Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata :

Adapun dalil tentang keharusan sucinya tempat shalat yaitu hadits Abu
Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata :

“Telah berdiri seorang laki-laki dusun kemudian dia kencing di masjid
Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam , sehingga orang-orang ramai
berdiri untuk memukulinya, maka bersabdalah Rasulullah shallallaahu
alaihi wasallam, ‘Biarkanlah dia dan tuangkanlah di tempat kencingnya
itu satu timba air, sesungguhnya kamu diutus dengan membawa kemudahan
dan tidak diutus dengan membawa kesulitan.” (HR. Al-Bukhari).

4. Menutup aurat, Aurat harus ditutup rapat-rapat dengan sesuatu yang
dapat menghalangi terlihatnya warna kulit. Hal ini berdasarkan firman
Allah Subhanahu wa Ta’ala :

“Wahai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah setiap kali berada
ditempat sujud .” (Al-A’raf: 31)

Yang dimaksud dengan pakaian yang indah adalah yang menutup aurat.
sedangkan tempat sujud adalah tempat shalat. Para ulama sepakat bahwa
menutup aurat adalah merupakan syarat sahnya shalat, dan barangsiapa
shalat tanpa menutup aurat, sedangkan ia mampu untuk menutupinya,
maka shalatnya tidak sah.

5.Menghadap kiblat, Orang yang mengerjakan shalat wajib menghadap
kiblat yaitu menghadap ke arah Masjidil Charam. Hal ini berdasarkan
firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka
sungguh Kami akan memalingkanmu ke kiblat yang kamu sukai.
Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu
berada, maka palingkanlah mukamu ke arahnya.” (Al-Baqarah: 144)

Rukun-rukun shalat

Shalat itu mempunyai rukun-rukun yang apabila salah
satunya ditinggalkan maka tidak sah shalatnya.
Rukun-rukun tersebut adalah :

1. Berniat; Yaitu niat di hati untuk melaksanakan
shalat tertentu, hal ini berdasarkan sabda Rasulullah
shallallaahu alaihi wasallam:

“Sesungguhnya segala amal perbuatan itu tergantung
niatnya”. (Muttafaq ‘alaih)

2. Takbiratul Ihram; Yaitu takbir yang pertama kali
diucapkan oleh orang yang mengerjakan shalat sebagai
tanda mulai mengerjakan shalat dengan lafazh (ucapan):
.”Allaahu Akbar” Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah
shallallaahu alaihi wasallam :

“Kunci shalat itu adalah bersuci, pembatas antara
per-buatan yang boleh dan tidaknya dilakukan waktu
shalat adalah takbir, dan pembebas dari keterikatan
shalat adalah salam.” (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi dan
lainnya, hadits shahih )

3. Berdiri bagi yang sanggup. berdasarkan firman Allah
Subhanahu wa Ta’ala:

“Peliharalah segala shalat(mu) dan (peliharalah)
shalat wustha (Ashar). Berdirilah karena Allah (dalam
shalat-mu) dengan khusyu’.” (Al-Baqarah: 238)

Dan berdasarkan Sabda Rasulullah shallallaahu alaihi
wasallam kepada Imran bin Hushain:

“Shalatlah kamu dengan berdiri, apabila tidak mampu
maka dengan duduk, dan jika tidak mampu juga maka
shalatlah dengan berbaring ke samping.” (HR.
Al-Bukhari)

4. Membaca surat Al-Fatihah wajib pada setiap rakaat
shalat fardhu dan shalat sunnah; Hal ini berdasarkan
sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam:

“Tidak sah shalat seseorang yang tidak membaca surat
Al-Fatihah.” (HR. Al-Bukhari)

5. Ruku’ dengan thuma’ninah; bagi orang yang shalat
dengan berdiri minimal adalah menunduk kira-kira dua
telapak tangannya sampai kelutut dan yang sempurna
yaitu betul-betul menunduk sampai datar/lurus antara
tulang punggung dengan lehernya (90 derajat) serta
meletakan dua telapak tangan kelutut. Ruku’ ini
berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu,
sujud-lah kamu, sembahlah Rabbmu dan perbuatlah
kebajikan supaya kamu mendapat kemenangan.” (Al-Hajj:
77)

Juga berdasarkan sabda Nabi shallallaahu alaihi
wasallam kepada seseorang yang tidak benar shalatnya:

” … kemudian ruku’lah kamu sampai kamu tuma’ninah/
tenang dalam keadaan ruku’.” (HR. Al-Bukhari dan
Muslim)

6. I’tidal dengan thuma’ninah ; artinya berdiri lurus
seperti pada waktu membaca Fatihah.Hal ini berdasarkan
sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam terhadap
seseorang yang salah dalam shalat-nya:

” … kemudian bangkitlah (dari ruku’) sampai kamu
tegak lurus berdiri.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

7. Sujud dua kali dengan thuma’ninah; Hal ini
berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang
telah disebutkan di atas tadi. Juga berdasarkan sabda
Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam:

“Kemudian sujudlah kamu sampai kamu tuma’ninah dalam
sujud.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

8. Duduk di antara dua sujud dengan thuma’ninah ; Hal
ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu alaihi
wasallam:
“Allah tidak akan melihat kepada shalat seseorang yang
tidak menegakkan tulang punggungnya di antara ruku’
dan sujudnya.” (HR. Ahmad, dengan isnad shahih)

9. Duduk dengan tumaninah serta Membaca tasyahhud
akhir dan shawalat nabi ; Ada-pun tasyahhud akhir itu,
maka berdasarkan perkataan Ibnu Mas’ud radhiyallahu
anhu yang bunyinya:

“Dahulu kami membaca di dalam shalat sebelum
diwajibkan membaca tasyahhud adalah:
‘Kesejahteraan atas Allah, kesejahteraan atas malaikat
Jibril dan Mikail.’

Maka bersabdalah Rasulullah shallallaahu alaihi
wasallam:

‘Janganlah kamu membaca itu, karena sesungguhnya Allah
Yang Maha Perkasa lagi Maha Mulia itu sendiri adalah
Maha Sejahtera, tetapi hendaklah kamu membaca:

“Segala penghormatan, shalawat dan kalimat yang baik
bagi Allah. Semoga kesejahteraan, rahmat dan berkah
Allah dianugerahkan kepadamu wahai Nabi. Semoga
kesejahteraan dianugerahkan kepada kita dan
hamba-hamba yang shalih. Aku bersaksi bahwa tidak ada
sesembahan yang hak melainkan Allah dan aku bersaksi
bahwa Muhammad adalah hamba dan rasulNya.” (HR.
An-Nasai, Ad-Daruquthni dan Al-Baihaqi dengan sanad
shahih)
Dan sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam:

“Apabila salah seorang di antara kamu duduk
(tasyah-hud), hendaklah dia mengucapkan: ‘Segala
penghormatan, shalawat dan kalimat-kalimat yang baik
bagi Allah’.” (HR. Abu Daud, An-Nasai dan yang
lainnya, hadits ini shahih dan diriwayatkan pula dalam
dalam “Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim”)
Adapun duduk untuk tasyahhud itu termasuk rukun juga
karena tasyahhud akhir itu termasuk rukun

10. Membaca salam.

11. Tertib.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: