Pakaian Taqwa

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

“Wahai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa[531] itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.”

(QS. Al A’raaf: 26)

Pakaian taqwa, itulah pakaian yg baik. Begitu Allah SWT berpesan dalam kalam-Nya di atas. Ibn Katsir menukil dua pendapat ttg pakaian taqwa dlm ayat ini. Yg pertama berpendapat bahwa pakaian taqwa adalah yg nampak di luar (fisik) pada seorang hamba, sementara yg kedua berpendapat bahwa pakaian taqwa itu di dalam (hati). Jika kita menjadikan kedua pendapat tsb saling melengkapi, maka kita mendapati bahwa taqwa merupakan sebuah bias fisik dari eskpresi hati seorang hamba. Dan pakaian taqwa inilah yg Allah SWT perintahkan utk kita cari di dalam bulan puasa ini: “diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” (QS. Al-Baqarah: 183).

Tersebutlah Hanzhalah ra , salah seorang sahabat Rasullah saw. Ia mengadu pada Rasulullah SAW dan para sahabat yg lain bahwa ia merasa semangat ketika dekat Nabi dan para sahabat, tetapi ‘lemah’ ketika jauh. Hanzhalah takut jatuh dalam jurang kemunafikan. Seperti inilah contoh yg diajarkan oleh generasi utama Islam, generasi sahabat Rasulullah SAW. Betapa pun Rasulullah (SAW) bersabda bahwa sebaik-baik generasi adalah generasi para sahabatnya, tapi mereka sendiri pun tdk merasa diri mereka baik. Mereka kerap berhias rasa takut, cemas dan harap ttg keimanannya.

Ibnul Jauzi (seorang ulama pendahulu) mengibaratkan rasa takut dan rasa harap yg ada pada seorang beriman (seperti rasa khawatir Hanzhalah tsb) bagaikan 2 sayap pada seekor burung. Tanpa salah satunya tidak bisa terbang. Rasa takut/khawatir/cemas (khawf) saja tidak tdklah cukup, begitu juga rasa harap (raja’) tanpa rasa takut. Tanpa salah satu dari rasa ini, iman seorang hamba tdk bisa ‘terbang’ mendekat pada Rabb-nya. Untuk semangat inilah, kita mendapati sikap banyak orang yang merasa sedih di akhir Ramadhan. Merasa masih kurang optimal, tidak menggunakan bulan suci dengan maksimal. Karena memang tdk ada manusia yg bersih dari dosa (selain Rasulullah SAW). Tapi kita dicipta untuk membersihkan diri darinya: innallaaha yuhibbul muththohhirin; qad aflaha man tazakka.

Pakaian taqwa, bukanlah perasaan seseorang yg merasa bertaqwa lantaran banyak amal shalih yg diperbuatnya. Ini adalah sikap bangga diri (‘ujub), dan ini adalah salah satu pintu kelalaian. Tapi pakaian taqwa bukan pula sikap takut merasa taqwa, yg dengannya seseorang menjadi enggan utk beramal shalih. Seolah-olah seseorang ‘takut’ beramal shalih, lantaran ia ‘takut’ dengan amal shalih tsb, ia akan merasa dirinya bertaqwa.

**

Melalui surat al-Fatihah, Allah SWT membimbing kita untuk terus berusaha menjadi orang bertaqwa, yaitu orang-orang yg diberi nikmat petunjuk jalan yg lurus, bukan jalan mereka yg IA murkai atau mereka yg sesat (QS. Al-Fatihah: 6-7). Tidak sampai di situ, dgn kasih sayang-Nya Ia juga membimbing kita untuk tdk pernah merasa bertaqwa serta tdk putus asa dlm meminta petunjuk; Allah SWT memerintahkan kita utk membaca surat al-Fatihah tsb minimal 17 kali dalam 24 jam. Di dalam ayat lain, Allah SWT menyebutkan bahwa DIA mengutus para nabi dan Rasul agar para hamba-Nya menjadi ‘manusia-manusia Robbani’, yaitu mereka yg terus menerus belajar dan mengajarkan kitab-Nya (QS. Ali Imran: 79). Meresapi kedua ayat ini, bukankah seolah Allah SWT “berbicara” pada kita, bahwa DIA menginginkan ketaqwaan dan petunjuknya bagi hamba-hambaNya, yaitu dengan tidak merasa cukup dengan keadaan iman, ilmu, dan keadaan amal kita?

Dua bekal (Muhammad Ahmad Al Rashid):

a. Bekal Iman & Ilmu. Menjelaskan surat al-Fatihah, Rasulullah SAW mengajarkan bahwa orang-orang yg sesat adalah mereka yg imannya tidak dilandasi ilmu, sedangkan mereka yg dimurkai adalah kebalikannya, punya banyak pengetahuan namun sepi dari pengamalan.

b. Bekal ukhuwah/persaudaraan, yaitu kebersamaan kita dengan orang-orang di sekeliling kita. Kita bisa bercermin ttg banyak hal dari orang-orang di sekeliling kita. Mudah-mudahan, paling tidak pada sebagian di antara mereka, kita bisa bercermin ttg keadaan keimanan kita. Maka betapa berbahagia Hanzhalah, ketika kelesuan melanda imannya, ia bisa menjumpai banyak “cermin akhirat”. Pada ketakwaan Umar dgn ciri khas kegagahannya, pada ketakwaan Abu Bakr dgn kebijaksanaannya, pada kualitas Utsman dgn sifat pemalunya, dan pada keutamaan ‘Ali dgn kecerdasannya. Hanzhalah bisa bercermin kepada Rasulullah saw, sekaligus para sahabatnya. Hanzhalah bahkan berkata, “Saudara2ku mengingatkanku kepada Akhirat”.

Mudah-mudahan pakaian takwa yang kita dapat, kita tidak takut menjadi taqwa sehingga kita tidak beramal saleh, dan kita tidak merasa ujub. Untuk itu, mari terus beramal, berbarengan dengan rasa cemas dan harap serta terus merasakan kurang akan amal kita. Mudah-mudah dengannya Allah melindungi kita dari sikap bangga ataupun sombong akan amal kita, serta pintu-pintu kelalaian lainnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: